Telephone: +62651 6303 414 Handphone: +628116823232 (Call, SMS, WhatsApp)
http://www.acehguide.com/wp-content/uploads/2016/05/720x90-citilink.png
images5

Aceh dan Turki, Hubungan dan Kejayaan Lama

images5

Foto Ilustrasi

Pada tulisan sebelumnya (Baca: Aceh Is Amazing Place) kita telah bercerita tentang keindahan aceh. Salah satu yang menarik adalah sejarah panjang Aceh dan hubungannya dengan beberapa negara. Kali ini kita membahas wisata sejarah yang berkaitan dengan hubungan Kesultanan Aceh dan Kerajaan Ottoman (Sekarang Republik Turkey).

Hubungan antara Aceh dan Turkey telah dimulai sejak kejayaan Kerajaan Samudera Pasai antara Tahun 1267 – 1297, hunbungan ini berupa hubungan dagang. Pada tahun 1564, hubungan Kesultanan Aceh dengan Kerajaan Ottoman (Turkey) kembali diperkuat. Pada masa ini hubungan yang dibangun bukan hanya sekedar hubungan dangang semata, namun termasuk hubungan politik dan kerja sama militer.

Pada saat itu Kesultanan Aceh yang dipimpin oleh Sultan Alauddin Al-Qahar mengirim  duta (utusan) Kesultanan kepada pemerintah Kerajaan Ottoman yang dipimpin oleh Sultan Sulaiman I (yang kemudian dikenal dengan Sulaiman yang Agung) kerana Kesultanan Aceh mulai terdesak oleh tentara Portugis yang melancarkan ekspansi di Selat Malaka. Kepada utusannya Sultan Aceh menitipkan sepucuk surat serta hadiah berupa sejumlah lada (merica) yang tidak lain adalah  komoditi andalan Aceh yang sangat bernilai pada masa itu.

Surat Sultan Alaidin Manshur dari Kerajaan Aceh kepada Kesultanan Turki Utsmani (1)

Surat tulisan tangan Sultan Alauddin Al-Qahar kepada pemerintah kerajaan Turkey 

Para utusan ini akhirnya diterima oleh Sultan Selim II yang baru saja dilantik menggantikan sang ayahanda Sulaiman I yang mangkat dalam perjalanan pulang dari medan perang. Namun sayangnya hadiah dari Sultan Aceh ini cuma tersisa segenggam (secupak) lada saja. hal ini kerana para utusan ini lama menunggu King Sulaiman kembali dari medan perang yang akhirnya mangkat.

Walaupun hanya lada “secupak” yang diserahkan oleh para utusan Kesultanan Aceh, namun kerana kesamaan ideologi antara kedua kerajaan, Sultan Turki Utsmani saat itu Selim II memutuskan untuk mengupayakan bantuan militer ke Aceh yang di antaranya termasuk sebuah meriam yang secara perlambangan dinamakan ‘lada sicupak’.

Bantuan turkey ke Kesultanan Aceh berlanjut dengan mengirimkan pasukan militer dan ahli persenjataan ke Aceh untuk membantu Kesultanan Aceh menghadapi Portugis. Sultan Turki Utsmani tidak meminta kepada Aceh untuk mengirim pajak (upeti) tahunan yang biasanya diminta dari masing-masing negara pengikut sebagaimana lazimnya tradisi pada masa itu. Ini suatu pertimbangan politik secara khusus dan ganjil yang sengaja dibuat oleh Sultan Turki Utsmani ini sebagai hibah politik kepada Kesultanan Aceh untuk menyempurnakan kedaulatannya di dalam memimpin Islam di Asia Tenggara.

meriam-lada-sicupak

Meriam Lada “Sicupak” berlapis perak hadiah Kerajaan Turkey kepada Kesultanan Aceh  yang Replikanya tersimpan di Meuseum Aceh.

Rombongan yang dikirimkan oleh Sultan Turki tersebut tidak sepenuhnya bekerja untuk melakukan peperangan langsung melawan Portugis, seperti yang dibutuhkan Aceh. Namun, mereka juga membuat lembaga pendidikan militer dan melatih rakyat serta pasukan Aceh agar bisa menguasai taktik dan strategi peperangan yang handal. Mereka juga mengajarkan rakyat Aceh untuk membuat meriam dan membuat kapal perang yang bisa menampung meriam di dalamnya.

 Para rombongan dari Turkey ini akhirnya memetap diaceh, sehingga terdapat pemukiman Turkey di Banda Aceh yang diberi nama kampung Bitai. Di Kampung Bitai ini terdapat sebuah komplek pemakaman yang didalamnya terdapat sebuah mesjid. Nama Bitai ini sendiri di ambil dari nama Pimpinan pasukan Turkey Ghazi bin Mustafa Ghazi yang kemudian dikenal dengan nama Tengku Syech Tuan Di Bitai. Beliau adalah sahabat dekat Sultan Salahudin sehingga setelah wafatnya beliau juga dimakamkan disini didekat makam sahabatnya.

DSC00052

Gerbang komplek pemakan rombongan Turkey di Banda Aceh yang terletak di Gampong Bitai Kecamatan Jaya Baru

000_0312

Mesjid Tgk. Dibitai yang berada dalam komplek pemakaman Turkey di Kampung Bitai. 

Hubungan Aceh-Turkey ini membuahkan kejayaan bagi Kesultanan Aceh. Ilmu perang dan Ilmu persenjataan yang diberikan oleh pemerintah Kerajaan Turkey membuat Kesultanan Aceh berhasil menaklukkan  Malaka. Pada masa Sultan Iskandar Muda memimpin Kerajaan Aceh Darussalam, kekuasaan Aceh meluas sampai ke Semenanjung Malaysia.

Penulis: Teuku Dasril

http://www.acehguide.com/wp-content/uploads/2016/05/720x90-citilink-1.png

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: